Starting

Starting
Tempoe Dulu

At Sea

At Sea
Sunset at Japan

At Japan

At Japan
Yokohama Port,Japan

Poem of Seafarer

" Tebaran Pesonanya bagai embun pagi

Hangat peluknya bagai mentari pagi

Pandangan kasihnya bagai kupu – kupu di taman asri

Bariton suaranya kala menyapaku terpatri di hati

Kuingin hidup seribu tahun lagi bersamanya dengan kasih



Namun...



Ketika hati perih … rindu mengganggu …

asa tergantung diangkasa … seakan hanya angan belaka

keraguan akan cintanya mulai menyapa ...

Perlahan ... bagai air laut yang mengikis indahnya pantai ...

Semakin dalam cinta ... semakin dalam ... abrasi di hati



Kemana hendak mencari ...

Pada siapa hendak mengadu ...



Tuhan sajalah yang tahu ... betapa ingin ke arungi lautan biru

Tuk damaikan hati yang sedang merindu

Sayang sungguh sayang bidukku menjadi abu



Ingin kugapai bintang yang tinggi

Apa daya tanganku hangus terbakar matahari



Kasih pujaan hati..

Saat ini aku tak tahu membedakan ’kesabaran...kebodohan...atau ketidak berdayaan’

Aku ingin bersabar menunggumu ... seperti yang kau mau

Tapi kadang aku merasa bodoh bila harus menunggu ... dengan sejuta misteri hidupmu

Dan celakanya ... aku tidak berdaya tuk pergi dari hidupmu ... aku terpikat pesonamu "

Coffee Time

Coffee Time
B Deck

On Duty

DeviL of Sea

_ Musuh setiap Nahkoda _

“A great leader should always focus and look for the right direction and try to avoid he wrong distraction.”

Duduk santai sambil menanti hidangan pembuka ”the magnificent seven” di Schonburg Castle memang sangat mengasyikkan. Sesekali toast dengan anggur spesial membuat suasana makin hangat dan akrab. Dari jauh saya memandangi Sungai Rhein yang luas dan airnya tidak kotor kalau dibandingkan dengan Sungai Ciliwung di Jakarta. Lamunan dan obrolan santai terhenti sejenak ketika saya mendengar alunan lagu yang sangat akrab dengan penduduk sekitar.

Lagu yang tidak biasa tadi membuat saya terkesima, bagai wejangan lampu kuning yang harus senantiasa membuat kita terjaga. Ada banyak musuh di sana yang tak pernah kita kira. Kekalahan bukan karena kompetensi, melainkan karena birahi. Gagal hanya karena menikmati kenikmatan sesaat.

Begini lirik lagu itu yang diterjemahkan secara bebas oleh Dr. Walther, begitu kami biasa memanggilnya, seorang CEO asli Jerman yang mampu membuat turnaround perusahaan yang bisa dikatakan secara teknis masuk dalam Chapter 11. Cahaya rembang sore hari mulai meredup di Sungai Rhein. Makin lama, makin gelap. Ada seorang perawan cantik berdiri di puncak batu karang. Ia menyisir rambutnya dengan sisir dari emas. Pernik keemasan di tubuhnya berkilau-kilau bercahaya sepanjang malam. Ia menyanyi lagu nan indah dan sarat makna.

Nakhoda dan kelasi dalam sebuah perahu kecil menengadah ke atas. Melihat perawan cantik dan mendengar nyanyiannya, hati mereka tersentuh. Makin terbuai, mereka semua terpesona dengan keindahan yang tak pernah mereka pikirkan. Sampai mereka lupa, ke mana mereka akan pergi. Kendali kapal terlepas karena mata memandang sang bidadari. Akhirnya, ombak menelan nakhoda, kelasi, dan kapal kecil itu. Tenggelam menabrak batu karang dan hanyut oleh derasnya aliran sungai. Mereka adalah musuh yang dikalahkan oleh sang perawan cantik. Loreley namanya.

Legenda yang menjadi sejarah nyata bagi banyak pemimpin hingga masa kini. Pemimpin yang lupa akan tugasnya dan asyik bercengkerama dengan distraction sepele, membuat ”kapal” organisasinya oleng, bahkan karam. Batu karang sudah ada di sana. Ia tidak serta merta hadir untuk mengaramkan kapal yang lewat. Kapal yang karam adalah kapal yang menerjangnya. Ia tidak pernah menerjang siapa pun. Menyedihkan sekali.

Fokus pada arah dan tujuan perjalanan adalah petuah kuno yang pasti dikenali oleh setiap nakhoda. Kemudi kecil untuk perahu besar, tidak mudah dibelokkan seperti kemudi sepeda motor di jalan raya. Makin besar perahu yang dinakhodainya, makin sulit melakukan manuver tatkala halangan di depan sudah berada pada radius yang terlalu dekat. Nakhoda tahu, kapan bisa berputar, kapan bisa berkelok, dan kapan harus berhenti sejenak. Kemudi kecil menggerakkan seluruh roda gila agar kapal bisa berputar sesuai kemampuan.

Kala nakhoda sudah kehilangan kendali kemudi pikirannya, kapal akan makin tak keruan. Kala kemudi pikiran sudah berfokus bukan pada arah perjalanan, melainkan pada arah kepentingan pribadi, maka yang terjadi adalah resultante arah yang tidak berada pada jalur pelayaran yang dikehendakinya. Kemiringan setengah derajat pada kilometer pertama kelihatannya seperti aman saja. Setelah mengarungi jarak 10 kilometer, kadang nakhoda terkejut karena arahnya melenceng agak jauh.

Dua kemudi kecil dalam kapal organisasi harus selalu berada pada status “well synchronize”. Kemudi pikiran pemimpin dan kemudi praktek kepemimpinan. Kemudi apa yang dipikirkan dan kemudi apa yang dilakukan. Kemudi apa yang dikatakan dan kemudi apa yang dilakukan. Satunya kata dan perbuatan. Satunya keinginan dan perilaku.

Kala nakhoda sudah mulai bermain dengan distraction, yang bisa berarti keinginan untuk masuk ke bisnis non-core karena melihat ada kesempatan, berarti ia sudah mempertaruhkan kapalnya. Kalau taruhannya gagal, tidak hanya sebagian kapal yang karam, tetapi acap kali seluruh isi kapal habis tertelan ombak karena ujung kapal menabrak karang.

Nakhoda Enron tersandung oleh Loreley berupa derivatif dari perdagangan energi yang sangat menarik. Perdagangan tanpa barang nyata dengan keuntungan yang berlipat dalam satuan detik membungkam para eksekutif yang mau tetap bertahan pada dunia ”brick and mortar”. Perdagangan di dunia maya yang asyik, membuat dunia nyata menjadi makin tidak relevan. ”Hanya eksekutif tradisional yang mau ber-'kotor ria' di dunia pabrikan,” begitu mungkin pemikirannya. Kala Loreley itu sirna, Enron yang pernah menjadi pujaan para scholar dan management consultant itu bangkrut tak berbekas.

Arthur Andersen, konsultan akuntansi kondang yang kokoh, jatuh tersandung oleh Loreley skandal akuntansi yang seharusnya tak boleh dilakukannya. Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat, hampir tenggelam hanya karena distraction oleh Loreley yang tak sepantasnya terjadi. Namun, intern cantik bagi mata Bill, membuat arah hidupnya berubah. Beruntung ia punya Hillary yang mampu mengembalikan kemudi pada peta perjalanan semula.

Saya teringat, banyak eksekutif mumpuni yang piawai menjadi nakhoda di core business-nya hampir tenggelam karena terpesona oleh Loreley bisnis yang kelihatannya menjanjikan dan menggiurkan. Akhir 1990-an, dengan demam mocin (motor Cina), ratusan pengusaha banting setir untuk memulai bisnis ini. Tahun 2005, banyak yang ingin jadi taipan batu bara dan minyak. Kuasa pertambangan diraih secepatnya. Hanya dalam hitungan tahun tak lebih dari satu jari tangan, banyak pemimpin ”sakti” bertumbangan di bisnis yang tak ia ketahui rimbanya. Loreley memang cantik, tetapi tidak semua orang bisa memilikinya. Hanya yang mengerti mampu meraihnya.

Nakhoda yang baik, tahu kapan mencuri pandang sejenak ke Loreley cantik dan kapan kembali ke tugas semula. Kemudi kecil yang sudah usang harus menjadi fokusnya kalau ingin kapalnya selamat sampai tujuan.

Annesya

Monday, January 17, 2011

Promoting Your Blog

Promoting Your Blog

No comments:

Post a Comment